Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Monday, July 22, 2019

500 Days of Summer. 10 Tahun Kemudian.

Bagi kalian para pecinta romantic comedy tahun 2000an, mungkin sudah pernah mendengar film berjudul “ 500 Days of Summer “, yang dirilis tepat 10 tahun yang lalu. Untuk memperingati ulang tahun 500 days of summer yang ke 10, saya mencoba untuk membahas beberapa aspek dalam film ini yang masih diperbincangkan oleh para pecinta film sampai sekarang. Aspek-aspek ini tidak habis-habisnya di bahas baik lewat platform youtube, blogger, bahkan sampai majalah online maupun cetak. Bagi yang belum nonton dan yang gak suka spoiler bisa search dulu film nya dan tonton sampai habis, setelah itu bisa balik lagi ke sini. Bagi yang belum nonton tapi gak peduli akan spoiler, mari kita bahas. 
500 days of summer mengisahkan seorang pria bernama Tom yang jatuh cinta dengan wanita bernama Summer (persis seperti judul filmnya, yang sebenernya adalah kode dari 500 hari Tom bersama Summer). Tom bertemu Summer di tempat mereka bekerja (office romance gitu deh), dan pertama kali ketemu Summer, Tom langsung jatuh cinta. Tapi karena temen kerjanya (yang juga temen deket Tom) membuat Tom agak ragu mendekati Summer. Singkat cerita, suatu hari perasaan suka Tom diketahui Summer, dan akhirnya mereka pacaran. Suatu hari, perasaan Summer berubah drastis, dan terjadilah pertengkaran hebat yang akhirnya membuat mereka putus. Tom amat sangat patah hati, dan seketika mood nya berubah suram, Tom tidak masuk kerja, kalaupun masuk kerja, ia sulit konsentrasi, dan pekerjaannya terbengkalai. Fast forward, Tom ketemu lagi dengan Summer di suatu event, dan mulai lah cinta lama bersemi kembali. Harapan Tom untuk merajut cinta kembali dengan Summer berakhir setelah Tom melihat  Summer mengenakan cincin pernikahan. Seketika perasaan patah hati itu kembali, namum kali ini lebih menyakitkan.

Setelah kalian membaca plot ceritanya, seperti  cerita komedi romantis pada umumnya kan? Cowo ketemu cewe, saling tertarik, pacaran, berantem, putus, dan patah hati. Tapi, ada beberapa hal dalam film 500 days of summer yang layak untuk dibahas lebih lanjut. Personally, saya akan mebahas 3 aspek tersebut : 

1.      Not Manic Pixie Dream Girl.
Manic pixie dream girl adalah istilah bagi karakter/tokoh wanita dalam drama baik film maupun theater yang sempurna dari segi personality, unik dalam berpakaian, cantik secara fisik, menarik dalam berperilaku, dan instantly membuat karakter utama pria jatuh cinta. Jadi bayangkan seorang tokoh wanita yang perfect in every way yet so mysterious, cantik, original, menggoda. Nah itulah definisi umum dari manic pixie dream girl, tujuannya apa dibuat tokoh seperti itu?, tentu dalam sebuah drama, semua tokoh memiliki peran dan tujuannya, nah kalau tokoh ini fungsinya simple, yakni mengajak tokoh utama pria ke tujuan yang telah di tetapkan oleh sang penulis atau creator drama. Entah tokoh utama pria itu harus belajar tentang pahitnya hidup, indahnya jatuh cinta, atau belajar tentang kenyataan hidup dan mati, semua secara tidak langsung diajarkan oleh sang manic pixie dream girl. Lalu hubungannya dengan 500 days of summer apa? Banyak yang mengatakan bahwa Summer adalah tipikal Manic Pixie Dream Girl, dimana gara-gara Summer, Tom akhirnya belajar bagaimana bahagianya jatuh cinta, dan sedihnya di khianati. Summer pun memiliki semua kriteria dari manic pixie dream girl, namun menurut saya, Summer bukanlah tokoh yang dibuat sebagai manic pixie dream girl. Summer ada hanya karena Tom, dan jika Tom tidak membayangkan Summer, maka Summer tidak muncul dalam film. Summer hanya muncul jika Tom mengingat atau berinteraksi denganya. Summer bukan tokoh independent, ia hanya proyeksi dari Tom, sang tokoh utama. Sedangkan sifat dari tokoh manic pixie dream girl adalah bebas, ia tidak terikat oleh sang tokoh utama, ia bebas keluar masuk plot cerita dalam drama.
2.  Summer is the object of Tom.
Summer ada dalam cerita karena Tom. Dalam film, perpektif yang ditampilkan adalah hanya dari sisi Tom, sang tokoh utama. Summer muncul dalam scene ketika Tom bertemu dengannya, atau mengingat tentangnya. Dengan kata lain Summer akan muncul jika Tom menginginkannya untuk muncul. Kedalaman karakter dari Summer pun tidak diperlihatkan, hal ini dikarenakan kita tidak melihat sisi lain dari Summer, kita melihat Summer dalam scene hanya dari pandangan Tom. Selain itu, perubahan sifat Summer secara tidak langsung merupakan refleksi dari perubahan mood Tom. Hingga di akhir film, ketika tokoh Summer beranjak dewasa secara emosional, begitu juga Tom.
3. It’s not Summer’s fault.
Sebagian besar orang yang menonton film ini menyatakan bahwa semua ini salah Summer. Tom hanyalah seorang pria tidak bersalah yang lugu, yang dimanfaatkan oleh Summer, dan akhirnya dicampakkan begitu saja hingga patah hati. Hal ini menurut saya tidak benar. Tom juga bersalah. Sejak awal mereka mulai dekat, Summer dengan tegas menyatakan pendapatnya bahwa ia tidak sedang mennginginkan hubungan yang serius. Disanalah seharusnya Tom sadar bahwa hubungan mereka akan berakhir kandas, dan Summer hanya menginginkan kesenangan semata. Jika Tom benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan Summer, dan setuju untuk menjalani hubungan seperti itu, semua akan baik-baik saja, jika Tom tidak sanggup, ya sudahi saja. Namun apa yang terjadi?,ketika Summer membuka hati dan berkata jujur kepada Tom tentang apa yang ia inginkan, Tom tidak mendengarkan, ia menganggap itu sebagai kata-kata tidak berarti. Setelah itu, ketika Summer mulai jenuh, dan sikapnya pun mulai berubah, disanalah Tom merasa seperti dicampakkan, tidak dipedulikan, dan dianggap tidak berarti. Tom menuntuk kejelasan atas hubungan mereka, namun Summer semakin menarik diri dan menganggap Tom sebagai teman. Disinilah audience melihat Tom sebagai korban dan Summer sebagai pelaku kejahatan. Hal ini tidak sepenuhnya salah audience. 500 days of summer, memang mengisahkan kisah cinta dari perspektif Tom, jadi otomatis kita digiring untuk bersimpati terhadap Tom. Namun jika kita melihat dari keseluruhan cerita, hal itu menjadi berbeda.
Tidak banyak film romantic comedy yang mempunyai plot simple tetapi mengundang banyak pertanyaan dan pembahasan sampai 10 tahun setelah film tersebut rilis. Inilah keunikan dari 500 days of summer, dan mengapa film ini dinobatkan sebagai timeless classic romantic comedy (termasuk menjadi salah satu film favorit saya), dan merupakan film yang dapat dinikmati semua gender. Hal pendukung lainnya yang juga berperan penting adalah performance dari Joseph Gordon Levitt sebagai Tom, dan Zooey Deschanel sebagai Summer yang super oke, chemistry dari keduanya, dan production design yang kece. Kedua actor tersebut berhasil memerankan Tom dan Summer denganamat sangat baik hingga penonton merasa bersimpati. Bagi kalian yang belum nonton, ini salah satu film rekomendasi saya, kalian bisa belajar banyak hal terutama tentang bagaimana melihat hubungan percintaan dari dua sisi dan bagaimana menyingkapi percintaan dengan dewasa. Banyak film yang hanya dibuat untuk menghibur, dan itu tidak salah, memang film dibuat untuk itu. Namun jika kalian menemukan sesuatu yang lebih ya kenapa tidak?. Film ini mengajarkan saya bahwa everything is not as they seem. Cobalah untuk melihat sesuatu lebih dari apa yang disajikan di depan mata. You might be surprised to what you’ll found.

Silahkan melihat link-link di bawah ini sebagai bahan referensi :


Wednesday, June 7, 2017

THE COLLATERAL BEAUTY


Tidak banyak film yang mempengaruhi saya secara emosional. Salah satunya adalah film “The Collateral Beauty”. Film yang rilis di bulan desember 2016 ini dibintangi oleh Will Smith, Edward Norton, Kate Winslet, Michael Pena, Helen Mirren, Keira Knightley, Naomie Harris, dan Jacob Latimore. The Collateral Beauty mengisahkan tentang seorang pengusaha sukses bernama Howard (Will Smith) yang memutuskan untuk mengunci diri dari kehidupan setelah anaknya yang masih kecil meninggal akibat penyakit langka. Ia menceraikan istrinya, meninggalkan pekerjaannya, dan menolak untuk bersosialisasi dengan siapapun selama bertahun-tahun. Tiga orang sahabatnya yang bekerja di perusahaan yang ia bangun memutuskan untuk menyewa detektif dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata Howard menuliskan surat kepada Cinta,Waktu, dan Kematian, sebagai bentuk kekesalannya. Tanpa diduga, Cinta, Waktu, dan Kematian menemuinya dan memberikan respon atas kekesalannya.


Saya tidak akan membahas teknis film ini, tapi lebih ke pesan moral yang coba ditawarkan film ini kepada kita. Mengapa? karena dalam film ini proses pengambilan gambar menggunakan teknik yang biasa, tidak ada efek CGI berlebihan. Selain itu genre film ini adalah drama, jadi teknik produksi tidak terlalu rumit. Lain dengan film action, fantasy, dan lainnya yang memang mengandalkan teknik pengambilan gambar.

Film ini mempengaruhi saya secara emosional, terdapat beberapa pertanyaan yang muncul di kepala saya setelah saya menonton film ini. Agak spoiler sedikit (kalau ada yang belum nonton filmnya dan tidak suka akan spoiler ya coba nonton dulu film nya setelah itu baru balik lagi ke sini ya ^^), dalam film untuk menyelamatkan perusahaan yang sudah susah payah dibangun oleh Howard, tiga sahabatnya membayar 3 orang aktor dan aktris untuk memerankan cinta,waktu, dan kematian, berharap dengan adanya konfrontasi langsung dari subjek kekesalan dalam suratnya, Howard akan bisa bangkit lagi. Pertanyaan yang muncul dalam kepala saya adalah, bagaimana jika semua kode alam yang ditunjukkan kepada kita bukanlah benar-benar dari alam, namun hanya rekayasa manusia?

Karena itulah yang coba dilakukan oleh sahabatnya, menyewa aktor untuk memerankan “kode alam”. Ketika saya mulai skeptic , muncul lagi pertanyaan, bagaimana kalau sebenarnya alam yang mengirim pesan kepada sahabat Howard dan “menyuruhnya” untuk melakukan hal tersebut demi menyelamatkan hidup sahabatnya? Ada pepatah yang mengatakan bahwa “God saves those who wants to be saved.” (Tuhan menyelamatkan mereka yang ingin diselamatkan). Howard tidak ingin diselamatkan, dengan begitu ia semakin tenggelam dalam duka dan tersesat dalam kesedihan, namun sahabatnya fokus untuk mencari cara menyelamatkanya, dan di saat mereka depresi, muncul lah ide tersebut. Dengan kata lain, Howard tidak mau menyelamatkan dirinya sendiri sehingga alam tidak dapat menyelamatkannya, sedangkan sahabatnya ingin menyelamatkanya sehingga alam pun merespon dengan “membisikkan” ide tersebut.

Hal selanjutnya akan saya pecah ke dalam analisis karakter dan bagaimana kita bisa mengambil pesan yang coba mereka ungkapkan.

1. Whit dan Aimee (Love)
Whit (Sahabat Howard), memiliki permasalahan tentang cinta. Ia diceraikan istrinya karena berselingkuh, dan anaknya membencinya karena hal itu. Whit tidak bisa memperbaiki hubungannya dengan anaknya, apa lagi istrinya yang sudah menikah lagi dengan pria yang lebih sukses dan kaya dari dirinya. Mengapa ia dipasangkan dengan Aimee (aktris yang memerankan sosok Cinta)? Selain dari topik permasalahan pribadi nya yang fokus akan topik “Cinta”, secara teknis pengambilan gambar, di awal film Howard memberikan pidato kepada semua karyawan nya “We long for love, we wish we had more time, and we fear death.” (Kita merindukan cinta, kita berharap memiliki lebih banyak
waktu, dan kita takut akan kematian). Saat Howard menyatakan topik tentang “Cinta” kamera fokus kearah Whit. Whit selalu menyebutkan Love, Time, Death, menyebutkan Love lebih dulu. Berbeda dengan sahabatnya yang lain. Disinilah mengapa Whit dipasangkan dengan Aimee. Karakter yang dimainkan oleh Keira Knightley bernama lengkap Aimee Moore, “Aimee” berarti “Cinta” dalam bahasa Perancis, jadi Aimee Moore bisa berarti Love More (Lebih Mencintai). Aimee juga mempunyai karakter lebih emosional dibanding yang lain. Permasalahan yang ada dalam diri Whit yakni, Whit merindukan masa-masa dimana ia dicintai (oleh isterinya dan anaknya), namun ia tidak mampu bertindak untuk mewujudkannya, ia butuh motivasi, dan Aimee memberikannya. Aimee bersedia makan malam dengan Whit kalau ia berhasil memperbaiki hubungannya dengan anaknya. Rasa ketertarikan nya kepada Aimee memberikan motivasi pada Whit, dan akhirnya dapat memperbaiki hubungannya.

2. Claire dan Raffi (Time)
Claire sedang berjuang dengan waktu. Ia ingin memiliki seorang anak, namun umurnya sudah tidak memungkinkan. Keinginannya berlawanan dengan waktu yang ia miliki. Inilah permasaahan utamanya. Ketika Howard memberikan pidato di awal film, saat ia mengatakan “we wish we had more time” kamera fokus ke arah Claire. Claire pun menyebutkan Time, Love, Death, menyebutkan Time terlebih dahulu. Inilah yang di inginkan Claire. Raffi memerankan “Time”, sosok anak muda yang terus bergerak, dan energik, layaknya waktu yang terus berjalan. Raffi pun mengkonfrontasi Claire dengan mengatakan “Your children don't have to come from you. They go through you. So, I wouldn't consider the battle with time over just yet.” (Seorang anak tidak harus datang dari diri mu sendiri. Mereka hadir melalui diri kita. Jadi saya rasa pertarungan mu dengan waktu belum berakhir). Raffi berusaha mengatakan bahwa, kehadiran seorang anak tidak harus datang dari diri kita secara biologis, kita tidak harus memiliki kemampuan tersebut jika ingin memiliki anak. Anak datang melalui diri kita, terlepas apapun metodenya. Jadi Claire masih memiliki waktu untuk mempunyai anak, apapun caranya. Claire membutuhkan konfrontasi dari Raffi, dimana Claire yang sudah berumur merasa tidak memiliki waktu lagi, sedangkan Raffi yang masih remaja memiliki waktu yang panjang. Kontradiksi ini lah yang membuat Claire merasa nyaman, ia merasa Raffi memberikan waktunya untuk nya, melalui konfrontasi tersebut. Raffi (yang masih muda) merasa waktu masih panjang, ia mengatakan bahwa (ketika memerankan Time) “I am a gift.” (Aku adalah berkah). Raffi menyarankan agar jangan membuang-buang waktu, lakukan apa yang engkau inginkan.

3. Simon dan Brigitte (Death)
Simon mengidap penyakit yang merusak paru-parunya, dan ia sedang sekarat. Ketika Howard menyatakan dalam pidatonya “We fear death”, kamera fokus ke arah Simon. Ketika simon berkata Death, Love, Time, ia menyebutkan “Death” terlebih dahulu. Inilah yang ia takutkan. Ia berusaha
menyembunyikan penyakitnya. Simon takut menghadapi kematian karena ia takut meninggalkan keluarganya tanpa apapun. Singkatnya, ia takut menghadapi kematian. Brigitte (Helen Mirren) memainkan sosok “Death”. Brigitte, digambarkan sebagai sosok yang santai, free spirit, dan selalu berpikir positif. Brigitte, melambangkan bahwa, kematian atau Death janganlah dipandang sebagai sesuatu yang menyedihkan, gelap, dan menakutkan. Kematian merupakan bagian dari alam, dan pasti akan dialami oleh semua insan yang ada di dunia ini, suka ataupun tidak suka. Brigitte mengatakan kepada Simon bahwa “You should not fear death. Make peace with it. See it as what it is. Don’t try to deny it.” (Kamu jangan takut akan kematian. Berdamailah dengannya. Lihat sebagaimana adanya. Jangan berusaha untuk mengelaknya). Karena nasehat itu lah Simon memberanikan diri untuk menghadapi apa yang akan ia temui. Ia berani mengatakan keadaannya kepada istri dan keluarganya, juga teman-temannya. Akhirnya ia bisa berdamai dengan kematian.


The Collateral Beauty merupakan film yang menawarkan kita untuk membuka mata dan melihat keindahan dari segala hal yang menimpa kita, baik ataupun buruk. “Collateral” berarti dampak beruntun dari suatu kejadian, atau bisa disebut sebagai efek domino. Film ini berusaha mengatakan bahwa apapun yang terjadi memiliki sisi positif, asalkan kita mau menyadarinya. “Make sure you see the collateral beauty”.